WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Seperti Kuburan, Sejumlah Mal Legendaris di Jakarta Makin Sepi


Jakarta, JMI
- DKI Jakarta tercatat sebagai provinsi dengan jumlah mal terbanyak. Hal itu mengacu pada situs resmi Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI, tercatat ada 96 mal tersebar di wilayah Jakarta.

Termasuk, mal-mal legendaris yang dulu jadi primadona bagi masyarakat. Tak hanya untuk tempat berbelanja, tapi juga tempat nongkrong dan rekreasi singkat.

Namun, di tengah bertambahnya mal-mal megah mengelilingi Jakarta, pesona mal-mal legendaris Jakarta kini mulai redup. Bahkan, mal-mal tersebut terpantau semakin ditinggalkan hingga lengang bak kuburan.

Salah satunya Plaza Semanggi. Lokasinya yang strategis di antara ruas jalan Sudirman dan Gatot Subroto menjadikan Plaza Semanggi mudah diakses.

Namun, kini Plaza Semanggi tak lagi seperti dulu. Mal yang berlokasi di jantung kota Jakarta ini semakin hari semakin sepi.

Fenomena serupa pun bisa dilihat di mal Glodok City, dulunya mal ini menjadi rekomendasi bagi warga Jakarta dan sekitarnya yang ingin membeli barang elektronik. Mal legendaris ini dulu sangat ramai. Namun kini, Glodok City malah sepi bak kuburan.

Berdasarkan hasil pantauan CNBC Indonesia, tampak toko-toko tutup. Sebagian statusnya ditawarkan untuk sewa. Tapi ada juga yang tutup karena belum membayar pajak. Tampak mal yang sempat hits di Jakarta ini lengang di setiap lantai. Apalagi, jika semakin ke dalam gedung mal.

Tidak jauh berbeda dengan Blok M, letaknya yang berdekatan dengan terminal Blok M dan ikonnya sebagai pusat musik tahun 80 dan 90-an, menjadikan Mal Blok M sebagai salah satu tempat legendaris di Jakarta. Namun kini, mal ini sepi seperti terabaikan, tak lagi ramai dipadati pengunjung baik yang untuk sekedar menikmati jajanan maupun memburu koleksi.

Meski demikian, pihak pengelola Blok M mengklaim kondisi saat ini sudah lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu. Pada masa awal Covid, keberadaan pengunjung sangat minim, namun saat ini diklaim lebih baik.

"Saya kira sudah mulai nanjak terus (jumlah pengunjungnya). Blok M sudah lumayan bagus," kata Stefanus A Ridwan, Presiden Direktur Pakuwon yang mengelola Blok M Plaza kepada CNBC Indonesia, dikutip Rabu (28/12/2022).

Efek Domino Pandemi Covid-19

Sebelum pandemi, Plaza Semanggi merupakan tempat nongkrong bagi warga Jakarta dan sekitarnya dari berbagai kelompok. Mulai dari mahasiswa kampus yang terletak di sebelahnya, karyawan perkantoran di sekitar, bahkan pengunjungnya yang adalah segmen keluarga.

"Bisa dilihat kondisinya sekarang, sepi dari lantai ke lantai sudah tidak ada tenant," begitu kata petugas penjaga mal kepada CNBC Indonesia.

Pusat perbelanjaan dan ritel memang menjadi sektor paling terpukul akibat pandemi Covid-19. Termasuk restoran dan cafe. Padahal, ritel dan restoran adalah daya tarik pengunjung sebuah mal.

Para pedagang di Pasar Glodok pun mengakui, sepinya Pasar Glodok sudah terjadi sejak pandemi, kala itu satu per satu penyewa kios pergi. Magis pasar ini sebagai toko elektronik pun kian turun, akibatnya pedagang tidak lagi mengandalkan penjualan langsung.

"Kebanyakan online kalau jualan, lebih jalan. Nggak ngandelin dari sini karena nggak tentu, kadang nggak ada yang keluar. Kalau sepi nggak kejual sama sekali," sebutnya.

Putar Otak Tarik Pengunjung

Terjadinya perubahan model bisnis dalam proses jual beli, yang sebelumnya biasa dilakukan tatap muka atau membeli langsung dari tokonya, kini dilakukan secara online.

Namun ternyata, bukan hanya karena terjadinya perubahan model bisnis yang menyebabkan mal legendaris di ibu kota menjadi sepi, melainkan adanya pergeseran fungsi pusat perbelanjaan.

Ketua Umum Asosiasi Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja melihat fenomena yang terjadi karena pergeseran pola belanja masyarakat.

"Sudah lama fungsi utama pusat perbelanjaan bukan lagi hanya sekedar sebagai tempat berbelanja saja, terutama bagi pusat perbelanjaan yang berlokasi di kota besar," kata Alphonzus.

Masyarakat yang semakin nyaman dengan berbelanja online secara perlahan mulai meninggalkan pola berbelanja tatap muka.

Maka dari itu, banyak pusat perbelanjaan mulai menambahkan fungsi lain dari sekadar pusat perbelanjaan. Terlebih harus bersaing dengan e-commerce.

"Pada saat ini untuk merespons perubahan yang terjadi akibat pandemi Covid-19 maka pusat perbelanjaan harus dapat menambahkan fungsi lain yaitu harus dapat menjadi hub koneksi sosial (social connection hub)," ujar Alphonzus.

"Karena sudah hampir tiga tahun manusia di dunia ini tidak bisa dengan bebas untuk berinteraksi dengan sesamanya secara langsung, bukan di dunia maya seperti yang selama ini terjadi," kata Alphonzus.

Menurutnya pusat perbelanjaan yang saat ini masih hidup dan ramai dikunjungi, hal itu karena mal-mal tersebut bisa menghadirkan dan menawarkan fungsi lain pusat perbelanjaan, selain untuk berbelanja. Terutama dalam hal gaya hidup.

"Banyak pusat perbelanjaan yang mampu dan telah berhasil memberikan fungsi lain dari sekedar fungsi belanja saja sehingga diminati dan banyak dikunjungi oleh masyarakat bahkan tingkat kunjungannya telah mencapai 100%," kata Alphonzus.

 

Sumber CNBC

Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar

Berita Terkini

Zulhas : Ancam Tutup Agen atau Pabrik yang Curangi Minyakkita Tak Main-main

Jakarta JMI, Keberadaan Minyakita langka di sejumlah daerah, termasuk di Kota Bandung. Harga minyak goreng bersubsidi itu juga sudah di atas...