Bukan sekadar pertandingan olahraga, kegiatan tersebut menjadi bagian dari ungkapan rasa syukur Kepala Desa Panyingkiran, ARIEF SYAEFUL BAHRI,S.H.,M.Kn, menjelang pelaksanaan khitan putranya, Radithya Arkaan Wijaya.
Sejak siang, masyarakat mulai berdatangan. Perlahan namun pasti, area sekitar lapangan dipadati warga. Mereka bukan hanya berasal dari Desa Panyingkiran, tetapi juga datang dari berbagai wilayah di luar desa.
Suasana semakin semarak ketika pertandingan memasuki fase-fase krusial. Setiap serangan, blok, dan smash pemain disambut teriakan serta tepuk tangan penonton. Olahraga yang biasanya menjadi tontonan masyarakat setempat hari itu menjelma menjadi sebuah pesta rakyat yang menyatukan berbagai kalangan.
Antusiasme warga bahkan disebut melampaui perkiraan
Kerumunan masyarakat menjadi gambaran bagaimana sebuah kegiatan olahraga mampu menjadi ruang silaturahmi sekaligus hiburan bagi masyarakat.
Bukan Sekadar Pertandingan
Di balik kemeriahan pertandingan, tersimpan makna yang lebih dalam. Gelaran tersebut merupakan bagian dari rasa syukur keluarga besar Kepala Desa Panyingkiran atas momentum khitan putranya, Radithya Arkaan Wijaya.
Namun, bentuk rasa syukur itu tidak berhenti pada kegiatan olahraga.
Kepala Desa Panyingkiran ARIEF SYAEFUL BAHRI,S.H.,M.Kn, juga telah menyiapkan agenda khitanan massal yang rencananya akan dilaksanakan pada 29 September 2026 mendatang.
Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus upaya menghadirkan kebahagiaan yang dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat.
“Rasa syukur tentu akan lebih bermakna apabila bisa dibagikan dan dirasakan bersama masyarakat,” demikian semangat yang tergambar dari rangkaian kegiatan tersebut.
Sosok Kades yang Dikenal Supel
Meriahnya acara juga tidak terlepas dari sosok Kepala Desa Panyingkiran,
ARIEF SYAEFUL BAHRI,S.H.,M.Kn, yang dikenal masyarakat sebagai figur yang supel, mudah bergaul, dan dekat dengan warga.
Kedekatan tersebut bukan hanya dengan masyarakat Desa Panyingkiran. Hubungan baik juga terjalin dengan masyarakat dari berbagai wilayah di luar desa.
Hal itu terlihat dari banyaknya warga luar desa yang turut hadir dan membaur dalam kegiatan tersebut.
Tidak ada sekat antara pemerintah desa dan masyarakat. Lapangan voli hari itu seolah menjadi ruang bersama—tempat warga bertemu, bersilaturahmi, tertawa, bersorak, sekaligus menikmati pertandingan.
Dari Lapangan Voli Menjadi Pesta Rakyat
Gelaran empat besar bola voli di Panyingkiran akhirnya bukan hanya berbicara tentang siapa yang akan melaju ke babak berikutnya.
Lebih dari itu, pertandingan tersebut menghadirkan cerita tentang kebersamaan, rasa syukur, olahraga, dan kedekatan pemimpin dengan masyarakat.
Di tengah kerasnya persaingan di lapangan, justru terlihat wajah lain dari olahraga: menyatukan masyarakat.
Sorak-sorai yang menggema di lapangan Panyingkiran pada Sabtu itu menjadi penanda bahwa ketika sebuah kegiatan digelar dengan semangat kebersamaan, masyarakat akan datang bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari perayaan itu sendiri.
Dan dari Panyingkiran, sebuah pesan sederhana kembali terlihat: kebahagiaan akan terasa jauh lebih besar ketika dirayakan bersama.
Semarak pertandingan empat besar bola voli di Desa Panyingkiran menjadi pembuka dari rangkaian ungkapan rasa syukur keluarga besar Kepala Desa Panyingkiran, Arief, atas khitanan putranya, Radithya Arkaan Wijaya.
Namun, kemeriahan tersebut belum menjadi akhir dari rangkaian kegiatan. Puncak rasa syukur akan kembali diwujudkan melalui agenda khitanan massal yang dijadwalkan berlangsung pada 29 September 2026 mendatang.
Kegiatan tersebut diharapkan menjadi momentum kebahagiaan bersama, khususnya bagi anak-anak peserta khitanan beserta keluarga mereka. Tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur keluarga Kepala Desa Arief, khitanan massal ini juga menjadi wujud kepedulian sosial serta semangat berbagi kebahagiaan dengan masyarakat.
Dengan rangkaian kegiatan tersebut, Panyingkiran kembali menunjukkan bahwa sebuah perayaan tidak harus berhenti pada kegembiraan keluarga. Ketika rasa syukur dibagikan kepada sesama, kebahagiaan pun tumbuh menjadi milik bersama.
Kini, masyarakat kembali menantikan tanggal 29 September 2026—hari ketika lapangan dan ruang kebersamaan Panyingkiran akan kembali dipenuhi senyum, doa, dan harapan dalam pelaksanaan khitanan massal yang menjadi bagian penting dari rangkaian syukuran tersebut.
Pewarta : Enju Juarsa
0 komentar :
Posting Komentar