WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Ratusan Aktivis 1998 Tolak Usulan Soeharto Jadi Pahlawan Nasional dalam Diskusi Publik di Jakarta

Jelang 27 tahun lengsernya Soeharto yang jatuh pada 21 Mei 2025 mendatang, banyak aktivis, pegiat kemanusiaan, hingga masyarakat sipil yang menolak keras usulan pemberian gelar pahlawan pada mantan Presiden ke-2 Republik Indonesia tersebut.

 

JAKARTA, JMI - Ratusan elemen aktivis 1998 berkumpul di sebuah hotel di Jakarta Selatan, Sabtu (24/5/2025) siang menjelang sore, dalam rangka berdiskusi dan pernyataan sikap menolak usulan agar Presiden kedua RI, Soeharto, menjadi pahlawan nasional.

Pengamatan Kompas.com di lokasi, sejumlah aktivis dan juga panitia acara dari Repdem, Barikade 98, Pena 98, hingga FK 98 sudah hadir di lokasi sejak pukul 12.00 WIB.

Di panggung acara, tertulis kegiatan itu bertemakan "Diskusi Publik Refleksi Reformasi 1998: Soeharto, Pahlawan atau Penjahat HAM?".

Acara sekitar baru dimulai pukul 14.00 WIB dengan ragam aksi dan pembacaan orasi.

Semua peserta acara juga disemangati oleh pemandu dengan memekikkan yel "Jangan Diam, Lawan!" dan "Hidup Rakyat".

Tampak pula di depan panggung acara, disebarkan ribuan tengkorak buatan yang rupanya memiliki simbol tersendiri terkait acara ini.

"Jadi, selama kediktatoran Orde Baru berkuasa di Republik Indonesia, sudah banyak memakan korban," ucap aktivis '98 ISTN Jakarta, Jimmy Fajar Jimbong, yang juga salah satu panitia acara, saat ditemui di lokasi, menjelaskan filosofi ribuan tengkorak imitasi tersebut.

"Jadi, simbolisasi tengkorak tulang belulang inilah bahwa dulu zaman ada petrus, penculikan aktivis, kemudian kasus tanah, Marsinah, Widji Tukul, dan lain sebagainya, Kedung Ombo. Begitu banyak warga rakyat atau masyarakat Indonesia yang tidak ditemukan sampai sekarang," tambah dia.

Aktivis '98 lainnya, Mustar Bona Ventura, mengatakan, ratusan aktivis '98 bukan hanya sekadar berkumpul.

Namun, lanjut dia, pihaknya juga menegaskan sepakat menolak usulan agar Soeharto mendapatkan gelar pahlawan.

Replika tengkorak korban kejahatan HAM yang terjadi pada masa pemerintahan Soeharto/RMOL


 

"Ini adalah peringatan bukan cuma sekadar berkumpul, tapi adalah peringatan menurut kami adanya wacana atau ide akan dianugerahkan gelar pahlawan nasional terhadap Soeharto, jelas kami bersepakat menolak," ujar Mustar.

"Kami keberatan dan ini adalah jauh dari nilai-nilai dari yang kita perjuangkan lahirnya dulu reformasi di tahun '98," sambung dia.

Menurut dia, demokrasi di Indonesia diperoleh dengan tidak gratis dan lahir tiba-tiba.

"Demokrasi karena dari buah keringat perjuangan, bahkan mungkin korban; korban ada ribuan, ada nyawa, ada air mata di situ. Sehingga menurut kami tidak tepat (Soeharto diusulkan jadi pahlawan)," ungkap dia.

Diberitakan sebelumnya, usulan nama Soeharto menjadi calon Pahlawan Nasional tahun ini menimbulkan pro dan kontra.

Presiden ke-2 Indonesia itu dianggap memiliki beberapa kebijakan kontroversial selama memimpin negara sepanjang 30 tahun.

Aktivis 1998 sekaligus Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, menyatakan, dirinya tidak setuju dengan pemberian gelar pahlawan nasional terhadap Presiden ke-2 RI Soeharto.

"Ini sejarah kan masih berjalan terus. Pemberian gelar itu jangan dulu," ujar Masinton, saat ditemui di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Rabu (21/5/2025).

Masinton pun mengajak semua aktivis '98 untuk merenungkan secara bersama-sama perihal gelar pahlawan nasional untuk Soeharto.

 

 

Sumber: KOMPAS.com

Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar