Majalengka, JMI — Menjelang peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka ke-186, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka menggelar Kirab dan Ziarah Sejarah sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan masa lalu sekaligus penguatan komitmen pembangunan daerah ke depan.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan dimaknai sebagai perjalanan simbolik yang menghubungkan nilai-nilai sejarah dengan visi pembangunan Majalengka “Langkung SAE”, yakni sejahtera, aman, dan berkarakter.
Kirab diikuti oleh Wakil Bupati Majalengka, Ketua DPRD, jajaran Forkopimda, seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Ketua TP PKK, Ketua Baznas, Ketua MUI, para camat, serta sejumlah tamu undangan lainnya. Prosesi diawali dengan long march sejauh kurang lebih dua kilometer dari Pendopo Kabupaten Majalengka menuju Kompleks Makam Girilawungan, Majalengka Wetan.
Setibanya di lokasi, rombongan melaksanakan ziarah ke makam Bupati pertama Majalengka, R.A.A. Kartadiningrat, sebagai simbol kesinambungan perjuangan para pendiri daerah dengan semangat pembangunan masa kini. Suasana khidmat menyelimuti prosesi doa bersama dan tabur bunga yang menjadi wujud penghormatan moral dan spiritual kepada para leluhur.
Sebelum ziarah berlangsung, Ketua DPRD Kabupaten Majalengka, H. Didi Supriadi, SH, membacakan sejarah singkat berdirinya Kabupaten Majalengka, mengajak seluruh peserta untuk kembali menelusuri jejak awal lahirnya daerah yang kini genap berusia 186 tahun.
Peringatan Hari Jadi Kabupaten Majalengka sendiri mengacu pada Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka Nomor 7 Tahun 2025, yang menetapkan tanggal 11 Februari 1840 sebagai hari lahir Majalengka, menggantikan ketetapan sebelumnya yakni 7 Juni 1490.
Bupati Majalengka H. Eman Suherman menegaskan bahwa kirab dan ziarah sejarah memiliki nilai strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya sejarah sebagai fondasi pembangunan.
“Majalengka Langkung SAE bukanlah konsep yang lahir tiba-tiba. Ia berakar dari sejarah, nilai perjuangan, dan keteladanan para pendahulu. Menghargai sejarah berarti menyiapkan masa depan Majalengka yang lebih sejahtera, aman, dan berkarakter,” ujar Eman.
Ia juga menambahkan bahwa penetapan Hari Jadi Majalengka pada 11 Februari telah melalui kajian akademis yang mendalam, sebagai upaya pelurusan sejarah sekaligus penguatan identitas daerah dalam setiap kebijakan pembangunan berkelanjutan.
Kehadiran lengkap unsur Forkopimda dalam rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan kuatnya sinergi lintas sektor, yang menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga stabilitas daerah serta mempercepat pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.
“Kolaborasi, sinergitas, dan kearifan lokal harus terus menjadi ruh pembangunan. Dengan kebersamaan antara pemerintah dan masyarakat, Majalengka akan terus melangkah maju tanpa kehilangan jati dirinya,” pungkas Bupati.
Rangkaian kirab dan ziarah ditutup dengan penuh kekhidmatan, menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Majalengka selama 186 tahun sekaligus peneguhan komitmen bersama untuk mewujudkan Majalengka Langkung SAE yang berkelanjutan.
Pewarta: Yaya Ruhiyat
0 komentar :
Posting Komentar