Sulteng, JMI - Komunitas Berani Bangga merespons pernyataan Anggota Pansus LKPJ DPRD Sulawesi Tengah, Marselinus, yang meminta penghentian program Berani Sehat dan Berani Cerdas. Pernyataan tersebut mencuat setelah adanya klaim bahwa program Berani Sehat berpotensi menjadi “bom waktu” serta keraguan terhadap ketepatan sasaran program Berani Cerdas
Menanggapi hal itu, Berani Bangga menilai usulan penghentian program merupakan langkah yang terlalu terburu-buru dan belum didasarkan pada analisis data yang menyeluruh. Mereka menegaskan bahwa kebijakan publik di sektor pendidikan dan kesehatan tidak dapat dinilai secara parsial tanpa melihat dampak serta implementasi secara utuh.
Co-Founder Berani Bangga, Shadiq Muntashir, menyatakan bahwa kritik merupakan bagian penting dalam demokrasi, namun harus disertai data yang dapat diuji secara terbuka.
“Jika ada klaim bahwa program ini bermasalah atau bahkan disebut bom waktu, maka harus dibuktikan dengan data yang lengkap. Evaluasi itu penting, tapi harus dilakukan secara objektif, transparan, dan berbasis fakta,” ujarnya.
Berani Bangga menjelaskan bahwa program Berani Sehat dirancang sebagai pelengkap sistem Jaminan Kesehatan Nasional, bukan pengganti BPJS Kesehatan. Program ini juga telah dilengkapi mekanisme verifikasi guna memastikan akuntabilitas layanan, sehingga penilaiannya perlu dilakukan melalui evaluasi menyeluruh. Sementara itu, pada program Berani Cerdas, sistem penyaluran beasiswa disebut telah diperkuat melalui verifikasi berlapis, termasuk integrasi data akademik serta pengecekan bantuan ganda. Temuan ketidaksesuaian dalam jumlah terbatas dinilai sebagai bagian dari proses pengawasan yang berjalan, bukan kegagalan sistem secara keseluruhan.
Menurut Berani Bangga, penghentian program hanya karena sebagian kecil temuan berisiko merugikan banyak penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan dukungan di bidang pendidikan dan kesehatan, khususnya di Sulawesi Tengah.
Sebagai bentuk keterbukaan, Berani Bangga secara resmi mengajak Marselinus dan Pansus DPRD Sulawesi Tengah menggelar debat terbuka berbasis data. Forum tersebut diharapkan melibatkan akademisi independen, media, serta pemangku kepentingan lainnya dan disiarkan secara terbuka kepada publik guna menghadirkan diskusi yang objektif.
Berani Bangga menegaskan bahwa ruang kritik harus tetap dijaga, namun tidak boleh berubah menjadi kesimpulan terburu-buru tanpa dasar data yang kuat. Mereka menyatakan siap berdialog secara terbuka demi memastikan kebijakan publik tetap akuntabel dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
Pewarta: Faizal
0 komentar :
Posting Komentar