WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

FMP-Jabar Dorong Kasus Mafia Tanah Timbul Patimban Ke Kejagung,  Kejari Subang di nilai Lamban dalam penanganannya.




Subang JMI, Dinilai lamban terhadap Penanganan kasus Mafia Tanah Patimban yang ditangani Kejaksaan Negeri Subang yang sudah naik ke penyidikan sejak Mei 2022, akhirnya puluhan Massa dari Forum Masyarakat Peduli Jawa Barat (FMP-Jabar) melakukan Unjuk Rasa Damai (Unras) ke Gedung Bundar Kejaksaan Agung Republik Indonesia (Kejagung RI) dan Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Jakarta, Kamis (20/10)


Seperti dikutif dari peraknews.com, aksi massa di Kantor Kejagung massa FMP-Jabar mendesak agar Jaksa Agung RI Bersama Menteri ATR/BPN Untuk Mengusut Tuntas Kasus Mafia Tanah Pada Pengadaan Lahan Proyek Pelabuhan Patimban dan Sertipikat Laut yang diduga melibatkan Kepala Desa Patimban Kec. Pusakanagara Kab. Subang, Kepala ATR/BPN Subang dan kawan kawan , seperti yang sudah di laporkan oleh FMP-Jabar ke Kejagung RI pada tanggal 13 September 2022 dengan No Surat: 100/LP-FMP/IX/2022. Tak hanya itu, massa aksi juga mendesak mengusut tuntas isu ‘jangkrik’ baik mediator maupun penerimanya yang harganya diduga mencapai 7 miliaran.
Di Kejagung massa aksi diterima dengan baik oleh pihak Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Bambang menyatakan bahwa Surat Laporan FMP- Jabar telah diterima Jaksa Muda Intelijen (Jamintel) dan sudah diteruskan ke Direktorat C Balai Diklat Kejagung RI di Ragunan pada 5 oktober 2022 untuk dianalisa.


Setelah unras damai di Kejagung, massa FMP-Jabar langsung menuju Baldiklat C Kejagung Ri di Ragunan. Disana, FMP-Jabar ditemui oleh Herlambang selaku Kasubag Dir C. Selanjutnya Herlambang menyarankan agar menghubungi seminggu kedepan untuk mengetahui perkembangan penanganan kasusnya melalui Subdit C Badiklat Kejagung.

Selanjutnya massa aksi menuju Kantor Kementerian ATR/BPN dan hanya perwakilana saja yang diperbolehkan masuk ke dalam. Disana perwakilan FMP Jabar sempat bersitegang dengan saudara Yadi perwakilan dari Dirjen 7 Kementerian ATR/BPN. Pasalnya massa menilai Kementerian ATR/BPN kurang respon atas surat dari FMP Jabar untuk menindaklanjuti Laporan tersebut, padahal FMP Jabar telah memberikan berkas berisi data lengkap dugaan penyalahgunaan wewenang dan penyimpangan program Presiden terkait Sertipikat Laut didugan melibatkan pejabat Kantor ATR/BPN Subang, sehingga hal ini dapat mempermudah pihak Kementerian ATR/BPN untuk menindaklanjutinya.

 Penangungjawab Aksi , Asep Sumarna Toha alias Abah Betmen, menyampaikan berdasarkan informasi melalui aplikasi SENTUH TANAHKU-SURVEI TANAHKU dan data yang diterima , diduga ada sekitar 500 bidang tanah di Desa Patimban Kec. Pusakanagara Kab. Subang, dimana proses sertifikasinya menggunakan program Presiden RI, yakni melalui Redistribusi Tanah Obyek Landreform Tahun 2021 dan luar biasanya ada sekitar 69 bidang seluas kurang lebih 1.029.346 m2 objeknya adalah laut/teluk bernama Cirewang.


Perlu diketahui tambah Abah Betmen, bahwa identifikasi dan inventarisasi subyek dan obyek, pengukuran, penelitian lapangan dilakukan oleh anggota sidang PPL (Panitia Pertimbangan Landreform), sidang PPL (sesuai SK Bupati). “Penetapan SK dan sampai penerbitan sertifikat Laut Cirewang sudah Bersertifikat diakui dan itu dibenarkan oleh ketua Tim dari Kantor ATR/BPN Subang yakni Hengky Sipayung”. Tutur Abah Betmen


Lanjut Abah Betmen, proses sertitifikasi dasarnya adalah Surat Keterangan Desa (SKD) atas tanah Timbul/Negara yang diterbitkan Pemerintah Desa Patimban yang diduga fiktif. Lebih mirisnya lagi, tambahnhya, pemilik nama yang tercatat dalam SKD hanya dipinjam KTPnya saja dengan iming-iming uang sebesar Rp.3-5 jutaan.
“Usut Tuntas dan tangkap para pelaku Mafia Tanah Patimban dan pelaku pembuat Sertipikat Laut serta mediator dan penerima jangkrik 7 Miliar hingga keakar-akarnya sipapun yang terlibat didalamnya, tanpa pandang bulu!” Pinta Abah Betmen geram.


Perlu diketahui bahwa Kasus Mafia Tanah Patimban yang ditangani Kejaksaan Negeri Subang sudah naik penyidikan sejak bulan mei 2022, namun belum ada penetapan tersangkanya, untuk itu massa meminta Jaksa Agung, KPK, Komisi Kejaksaan bersama Menteri ATR/BPN dan pihak terkait lainnya untuk melakukan supervisi/pengawasan terhadap penanganan kasus ini


Untuk diketahui, Jaksa Agung RI , Sanitiar Burhanuddin meminta para Jaksa Agung Muda untuk mencermati isu aktual terkini, yakni maraknya mafia tanah, mafia pelabuhan dan bandar udara, serta kelangkaan pupuk bagi petani.


“Kepada para Jaksa Agung Muda, isu aktual terkini yang patut dicermati adalah maraknya mafia tanah, mafia pelabuhan dan bandar udara, serta kelangkaan pupuk bagi petani,” kata Burhanuddin dalam keterangannya, Senin 10 Januari 2022 seperti dikutif dari TEMPO.co
Pernyataan tersebut disampaikan ketika memberi arahan dalam acara pengambilan sumpah dan melantik Wakil Jaksa Agung RI, Jaksa Agung Muda Intelijen, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, dan Jaksa Agung Muda Pengawasan bertempat di Auditorium Lantai 10 Gedung Menara Kartika Adhyaksa Kejaksaan Agung.


Burhanuddin menuturkan, keberadaan mafia tersebut telah meresahkan masyarakat dan mengganggu roda perekonomian negara, bahkan berpotensi terjadinya tindak pidana korupsi. “Saya minta kepada pada Jaksa Agung Muda untuk merapatkan barisan dan lakukan akselerasi pemberantasan para mafia tersebut. Ambil sikap tegas, tanpa kompromi, dan sikat habis para mafia tersebut,” ujar Jaksa Agung.


Burhanuddin juga mengatakan bahwa ia telah mengeluarkan Surat Edaran Jaksa Agung Nomor 16 Tahun 2021 tentang Pemberantasan Mafia Tanah dan Surat Edara Jaksa Agung Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pemberantasan Mafia Pelabuhan dan Bandar Udara.
“Segera laksanakan perintah saya tersebut, dan saya tunggu laporan baik atas kinerja dari saudara,” ucap dia.


Agus Hamdan/JMI/Red.
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar

Berita Terkini

Maman Imanul HAQ Komisi VIII Fraksi PKB DPR RI, Implementasi UU NO 8 Th 2016 Disabilitas dan Cegah Bencana Alam, Serta Targetkan 100 Kursi di Pileg 2024

Subang JMI - Maman Imanul Haq anggota DPR RI komisi VIIl fraksi PKB, hadir di Subang dalam rangka menghadiri Hari Distabilitas ...