WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Mereka yang Lebih Kuat Menahan Lapar daripada Tak Merokok

SENIN, 09 JANUARI 2016 | 14:11 WIB
Ilustrasi
Jakarta, JURNALMEDIAIndonesia.com - Data BPS (Badan Pusat Statistik) menempatkan rokok sebagai salah satu penyumbang kemiskinan paling besar di Indonesia. Kenyataannya, tidak sedikit perokok yang memilih tidak makan daripada tidak ngebul.

Ini terungkap dalam sebuah kampanye sosial 'Ro(kok) Enak)?' yang digagas oleh 5 mahasiswa London School of Public Relation. Dari 100 perokok yang mereka temui, hanya 22 orang yang rela menyerahkan rokoknya untuk ditukar dengan makanan.

"Menurut kami, ini menunjukkan bahwa bagi mereka rokok dianggap lebih penting daripada makanan," kata Febriana, Creative Officer Kampanye 'Ro(kok) Enak?' dalam perbincangan dengan detikHealth baru-baru ini.

Beberapa perokok yang mereka temui mengaku sulit untuk meninggalkan kebiasaan merokok, meski penghasilan mereka berada di bawah angka Rp 3 juta per bulan. Sebagian di antaranya sudah merokok sejak masih SD, sehingga sulit untuk lepas dari kebiasaan itu.

"Misalkan nih, gua posisi agak laper. Lalu ada rokok. Gua pilih merokok dulu sebatang, baru habis itu kepikiran untuk makan," kata salah seorang perokok yang ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Dari tahun ke tahun, data BPS memang menempatkan rokok di urutan kedua penyumbang kemiskinan setelah beras. Data September 2016 menyebut rokok memberikan kontribusi bagi kemiskinan sebesar 10,7 persen baik di perkotaan maupun pedesaan.

Pengeluaran untuk membeli rokok di kalangan keluarga miskin bahkan tercatat lebih besar dibanding pengeluaran untuk membeli daging maupun telur ayam. Padahal, keduanya merupakan sumber protein yang dibutuhkan untuk regenerasi dan pertumbuhan sel-sel tubuh. 
detik.com
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar