WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Kebiasaan Sok Tahu dalam Politik dan Demokrasi: Bahaya dari Ketidaktahuan dan Fanatisme Buta

JMI.Com -
Dalam era digital ini, informasi dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja. Namun, hal ini juga membawa dampak negatif, yaitu penyebaran informasi yang tidak akurat dan hoaks. Banyak orang merasa menjadi ahli politik, ahli demokrasi, dan ahli tata negara hanya karena membaca sekilas kabar atau mendengar dari mulut ke mulut. Mereka saling berdebat dan berargumentasi dengan percaya diri, tanpa menyadari bahwa pengetahuan mereka tentang topik tersebut sangatlah terbatas.

Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Pew Research Center, 64% orang dewasa di Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka mendapatkan informasi tentang politik dan pemerintahan dari media sosial (Pew Research Center, 2020). Namun, media sosial juga dapat menjadi sumber penyebaran informasi yang tidak akurat dan hoaks.

Bahaya dari Ketidaktahuan

Ketika seseorang merasa tahu segalanya tentang politik dan demokrasi tanpa memiliki pengetahuan yang cukup, mereka cenderung membuat keputusan berdasarkan emosi dan opini pribadi. Hal ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam fanatisme buta, di mana mereka hanya menerima informasi yang sesuai dengan pendapat mereka dan menolak informasi yang bertentangan.

Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh The New York Times, fanatisme buta dapat menyebabkan konflik dan perpecahan di masyarakat (The New York Times, 2020). Ketika seseorang terlalu fanatik terhadap suatu pendapat atau tokoh, mereka cenderung menolak pendapat lain dan tidak mau mendengarkan argumentasi yang berbeda.

Mengungkapkan pendapat bukanlah sesuatu yang dilarang, bahkan jika itu berarti mengutip atau mengikuti pendapat orang lain. Namun, penting untuk memiliki kesadaran diri tentang kemampuan dan wawasan kita tentang suatu hal. Seperti peribahasa yang mengatakan, "tong kosong nyari bunyinya, air beriak tanda tak dalam". Ini berarti bahwa seseorang yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang suatu topik sebaiknya tidak terlalu percaya diri dalam mengungkapkan pendapatnya.

Para pakar yang "beneran" memiliki pengetahuan dan pengalaman yang mendalam tentang konsep-konsep politik dan demokrasi. Namun, bahkan mereka pun dapat memiliki kepentingan yang berbeda-beda, sehingga dapat mempengaruhi pendapat mereka. Bahkan, dengan pengetahuan yang mereka miliki, mereka dapat mempertahankan pendapat yang tidak sepenuhnya benar jika itu sesuai dengan kepentingan mereka.

Pengikut yang pura-pura menjadi pakar seringkali terjebak dalam fanatisme buta, mengikuti pendapat pakar tanpa memahami secara mendalam. Mereka mungkin hanya ingin menjadi bagian dari kelompok atau karena kekaguman terhadap tokoh panutan. Ini dapat menyebabkan mereka terjebak dalam kebiasaan sok tahu dan tidak menyadari keterbatasan pengetahuan mereka.

Seringkali kita melihat orang-orang membenci seseorang hanya karena pandangan mereka tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan dan tidak sejalan dengan tokoh yang diidolakan. Kebencian ini seringkali diungkapkan dengan cara yang tidak sehat, seperti hanya menunjukkan keburukan-keburukan tokoh yang dibenci tanpa mempertimbangkan kelebihan yang mungkin dimiliki.

Namun, apakah kita lupa bahwa manusia tidak ada yang sempurna? Setiap orang memiliki kelemahan dan kelebihan. Lalu, mengapa kita membenci seseorang hanya karena kelemahan kecil di samping kelebihan yang besar? Apakah karena kedangkalan cara berpikir kita? Atau lebih celaka lagi, hanya karena kita mengikuti idola kita tanpa berpikir kritis?

Jika kita memahami bahwa tokoh-tokoh politik hanya aktor yang berperan dalam panggung sandiwara dengan peran dan tujuan masing-masing, maka kita seharusnya tidak terlalu serius dalam membenci atau mencintai mereka. Seringkali kita melihat tokoh A dan tokoh B berseberangan, saling mengungkap keburukan, dan pengikutnya juga "berperang" dengan sengit.

Namun, apakah pengikut itu juga "pura-pura" atau "bersandiwara"? Apakah mereka benar-benar memahami apa yang terjadi di balik layar? Atau mereka hanya mengikuti tokoh panutan tanpa berpikir kritis?

Tidak jarang kita melihat tokoh A dan B yang semula berseteru berubah menjadi "sohib" atau "sekutu". Namun, pengikutnya tetap ribut dan tidak mau menerima perubahan pandangan tokoh panutan mereka. Ini menunjukkan bahwa pengikut seringkali lebih serius dalam membela tokoh panutan mereka daripada tokoh itu sendiri.

Maka penting bagi kita untuk menahan diri dan tidak terlalu serius dalam membenci atau mencintai tokoh politik. Ibaratnya, jika kita hanya tahu seluk beluk tentang mesin motor, janganlah sok tahu dan mencaci teknisi pesawat terbang. Kita harus memahami keterbatasan pengetahuan kita dan tidak terlalu percaya diri dalam mengungkapkan pendapat kita.

Oleh karena itu, penting untuk memiliki kesadaran diri tentang kemampuan dan wawasan kita tentang suatu hal. Jangan sok tahu tentang sesuatu yang tidak kita pahami secara mendalam. Seperti peribahasa yang mengatakan, "kalau hanya tahu ujungnya tali jangan sok tahu berapa panjangnya".

Perlu Belajar dan Pengalaman

Politik, demokrasi, dan tata negara bukanlah hal yang ringan-ringan saja. Perlu belajar dan pengalaman untuk memahami konsep-konsep yang kompleks dan nuansa-nuansa yang terlibat. Tidak cukup hanya membaca atau mendengar, tetapi juga perlu memahami konteks dan analisis yang mendalam.

Menurut sebuah buku yang ditulis oleh Robert A. Dahl, "On Democracy", demokrasi memerlukan partisipasi aktif dari warga negara yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang politik dan pemerintahan (Dahl, 1998). Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami kompleksitas politik dan demokrasi, serta menghargai keahlian dan pengalaman orang lain.

Kebiasaan sok tahu dalam politik dan demokrasi dapat membawa dampak negatif yang signifikan. Oleh karena itu, kita perlu memiliki sikap kritis dan objektif dalam menghadapi informasi dan pendapat. Dengan memahami kompleksitas politik dan demokrasi, serta menghargai keahlian dan pengalaman orang lain, kita dapat membuat keputusan yang lebih tepat dan membangun masyarakat yang lebih harmonis dan beradab.


Bayu N'Plus
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar