WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Zelensky Desak Bantuan Tambahan Usai Pilot Jet Tempur Ukraina Tewas Saat Tangkis Serangan Udara Rusia

Mengutip Russia Today, Selasa (6/8/2024) sebuah video menunjukan bagaimana satu unit F-16 terbang di udara kota Odessa, Minggu. Pesawat itu tampaknya melakukan penerbangan pengintaian di atas kota Laut Hitam itu. (REUTERS/Valentyn Ogirenko)

Reporter: alkhadafi | Editor: alkhadafi | Senin 30-06-2025, 15:15 WIB

JAKARTA, JMI -- Seorang pilot pesawat tempur Ukraina tewas saat menangkis serangan udara besar-besaran Rusia yang terjadi Sabtu malam, 29 Mei 2025. 

Pilot bernama Letnan Kolonel Maksym Ustymenko tersebut menerbangkan jet F-16 dan berhasil menembak jatuh tujuh sasaran udara sebelum pesawatnya jatuh dan meledak.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky memberi penghormatan tinggi kepada Ustymenko dengan menganugerahinya gelar Pahlawan Ukraina, penghargaan tertinggi negara itu.

“Dia adalah sosok pemberani yang telah membela langit Ukraina sejak 2014. Kehilangan orang seperti dia sungguh menyakitkan,” ucap Zelensky dalam pidatonya.

Menurut Angkatan Udara Ukraina, Ustymenko mencoba menjauhkan pesawat dari kawasan permukiman sebelum akhirnya kehilangan ketinggian dan tidak sempat keluar dari pesawat. 

Ini merupakan jet F-16 ketiga dan pilot keempat yang rontok sejak Ukraina mulai mengoperasikan pesawat buatan AS tersebut tahun lalu.

Ukraina menyatakan bahwa Rusia meluncurkan 537 proyektil termasuk drone Shahed, rudal jelajah, dan rudal balistik ke berbagai wilayah Ukraina. Dari jumlah tersebut, 475 berhasil dicegat.

Ledakan terdengar di berbagai wilayah termasuk Kyiv, Lviv, Mykolaiv, Dnipropetrovsk, Cherkasy, dan Ivano-Frankivsk.

Di Cherkasy, sedikitnya 11 orang terluka, termasuk dua anak-anak. Beberapa gedung bertingkat dan fasilitas pendidikan juga mengalami kerusakan parah.

“Langit kami terus diserang hampir setiap malam. Rusia telah meluncurkan lebih dari 1.270 drone, 114 rudal, dan hampir 1.100 bom luncur hanya dalam sepekan terakhir,” ujar Zelensky.

Zelensky mendesak Amerika Serikat dan sekutunya untuk mengirimkan lebih banyak sistem pertahanan udara seperti Patriot, yang dianggap mampu menangkal rudal-rudal hipersonik dan balistik Rusia.

Ia menekankan bahwa Ukraina siap membeli sistem tersebut dan hanya butuh dukungan politik dari para sekutu.

“Perang ini harus segera diakhiri. Tapi tekanan terhadap agresor dan perlindungan rakyat sipil juga sangat penting,” tulis Zelensky di platform X.

Namun, pemerintahan Presiden AS saat ini, Donald Trump, belum menunjukkan komitmen baru untuk bantuan militer ke Ukraina. Trump menyatakan masih mempertimbangkan permintaan tambahan sistem pertahanan.

Dalam perkembangan terpisah, Zelensky menandatangani dekrit yang memulai proses penarikan Ukraina dari Perjanjian Ottawa, yaitu perjanjian internasional yang melarang penggunaan ranjau darat anti-personel.

Tindakan ini masih harus disahkan oleh parlemen Ukraina dan diberitahukan kepada PBB.

Menurut Kementerian Luar Negeri Ukraina, keputusan ini diambil karena Rusia menggunakan ranjau secara masif tanpa batasan, sehingga Ukraina merasa tidak bisa terus terikat pada aturan yang tak dipatuhi musuhnya.

 

sumber: Mahasiswa magang dari Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.

 

Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar