Tahun 2004 adalah titik awal perjalanan saya sebagai wartawan. Saat itu saya tidak tahu bahwa profesi ini akan mengajarkan satu hal paling mendasar dalam hidup: keberanian bukan tentang tidak takut, tetapi tentang tetap berjalan meski takut.
Dua puluh tahun lebih saya berada di lapangan. Dari ruang rapat yang penuh formalitas, lokasi bencana yang menyisakan duka, hingga situasi tegang yang bisa berubah ricuh dalam hitungan detik. Wartawan selalu diminta hadir. Cepat. Tepat. Akurat.
Namun jarang yang melihat sisi lainnya.
Saya pernah dihalangi saat hendak merekam kegiatan yang seharusnya terbuka untuk publik. Pernah didorong ketika suasana memanas. Pernah menerima pesan dan telepon tanpa nama, yang intinya meminta saya “lebih bijak” dalam menulis.
Kata “bijak” kadang berarti: jangan terlalu jauh.
Dalam sebuah liputan tentang dugaan penyimpangan anggaran, saya diminta mempertimbangkan ulang berita yang sudah melalui proses verifikasi. Alasannya sederhana: “Tidak semua hal perlu dibuka ke publik.”
Saat itulah saya sadar, tekanan bukan selalu soal ancaman keras. Terkadang ia hadir dalam bentuk halus—rayuan, saran, atau kekhawatiran yang dibungkus rapi.
Tetapi bagi wartawan, batasnya jelas. Jika fakta sudah diverifikasi dan menyangkut kepentingan publik, maka ia layak diketahui.
Apakah saya lelah? Tentu.
Apakah saya pernah ingin menyerah? Pernah.
Karena di balik setiap berita yang tayang, ada risiko yang tidak tertulis. Ada kekhawatiran keluarga. Ada kecemasan yang tidak pernah dipublikasikan.
Di era digital hari ini, tekanan semakin kompleks. Bukan hanya di lapangan, tetapi juga di ruang maya. Berita bisa dipelintir. Wartawan bisa diserang secara personal. Integritas bisa dipertanyakan tanpa membaca isi secara utuh.
Namun saya belajar satu hal penting selama dua dekade ini:
Jika wartawan mulai takut bertanya, maka publik akan kehilangan haknya untuk tahu.
Profesi ini bukan tentang popularitas. Bukan tentang menjadi viral. Ini tentang tanggung jawab moral.
Wartawan memang bukan penentu kebijakan. Kami bukan hakim. Kami bukan eksekutor. Kami hanya menyampaikan fakta. Tetapi fakta yang jujur sering kali mengguncang kenyamanan.
Dan mungkin memang di situlah letak pentingnya.Saya masih berdiri di profesi ini sejak 2004 bukan karena jalan ini mudah. Saya bertahan karena saya percaya, demokrasi membutuhkan suara yang independen—meski suara itu kadang dianggap mengganggu.
Hari ini, saya memilih tetap menulis.
Meski tekanan ada, Meski intimidasi pernah datang, Meski risiko tidak selalu kecil.
Karena bagi saya sederhana saja:
Jika kebenaran membuat sebagian orang tidak nyaman, mungkin yang perlu diperbaiki bukanlah tulisannya—melainkan kenyataan yang terungkap.
Dan selama masih ada ruang untuk bertanya, saya tidak akan diam.
Pewarta : Enju Juarsa
0 komentar :
Posting Komentar