WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

GOR Anugerah Sarana Bhakti Panyingkiran Ampir “Oyag”! Warga Tumplek, Anak-Anak Nari, Hadiah Gacor: Agustusan Rasa Festival, Euy!

Majalengka, JMI
– “Lamun peuting éta aya nu keur néangan warga Desa Panyingkiran, teu kudu jauh-jauh. Tingali waé ka GOR, sabab ampir kabéh geus ngumpul di dinya!”

Begitulah kira-kira gambaran malam puncak resepsi Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Panyingkiran, Kecamatan Panyingkiran, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat pada sabtu malam 29 Agustus 2026.

GOR Desa Panyingkiran malam itu benar-benar berubah menjadi pusat keramaian. Masyarakat membludak dan tumplek dari berbagai penjuru desa untuk ikut menyaksikan sekaligus memeriahkan malam puncak resepsi kemerdekaan.

Bukan hanya warga biasa yang hadir. Sejumlah unsur pemerintahan dan kelembagaan desa juga ikut larut dalam kemeriahan tersebut.

Turut hadir Ibu Camat Panyingkiran, 
beserta Sekretaris Kecamatan (Sekcam), Kepala Desa Panyingkiran beserta jajaran perangkat desa, Ketua BPD, Ketua LPM, Karang Taruna, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Linmas, para Ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, hingga berbagai elemen masyarakat Desa Panyingkiran.

Pokoknya, malam itu bisa dibilang:
“Ti nu biasa rapat di kantor, nu biasa ronda di pos, nepi ka nu biasana ngan nongkrong di warung, kabéh siga boga tujuan nu sarua: ka GOR Anugerah Sarana Bhakti!”

Suasana semakin pecah ketika Ibu Camat
Hj. NITA DWI WAHYUNI S, S.STP., dan Sekcam turut diberikan kesempatan untuk menyampaikan sambutan. Antusiasme warga yang sejak awal sudah tinggi membuat malam resepsi terasa semakin hidup.

“Nu boga hajat semangat, nu datang semangat, tamuna gé teu bisa cicing waé!”

Bukan Konser Artis Ibu Kota, Tapi Warga Tetap Membludak!

Tidak ada tiket masuk.
Tidak ada artis nasional.
Tidak ada panggung konser raksasa.
Tapi warga yang datang?
Membludak!

Itulah yang terjadi pada malam puncak resepsi HUT ke-81 RI di Desa Panyingkiran. Teriakan, tepuk tangan, suara musik, dan gelak tawa warga menggema di GOR Desa Panyingkiran.
Kalau ada yang bertanya kenapa warga bisa seramai itu, jawabannya sederhana. 
Karena malam tersebut merupakan puncak dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sejak 8 Agustus 2026 hingga 29 Agustus 2026.

Selama rangkaian peringatan kemerdekaan, Desa Panyingkiran menggelar beragam kegiatan dan perlombaan.

Mulai dari bola voli, futsal, jalan santai, hingga berbagai perlombaan dan kegiatan seni yang melibatkan dari anak-anak tingkat TK dan SD hingga para ibu-ibu.

Jadi ketika malam puncak tiba, masyarakat seperti sedang memanen hasil dari kebersamaan selama beberapa pekan.

Anak-Anak Tiap RT Naik Panggung, Orang Tua Langsung Jadi Kameramen Dadakan

Salah satu bagian yang paling menyedot perhatian adalah penampilan tarian anak-anak dari berbagai RT.

Begitu musik dimainkan dan anak-anak mulai tampil, suasana langsung berubah. Para orang tua mendadak sibuk. Ada yang mengangkat telepon genggam setinggi mungkin. Ada yang mencari posisi terbaik. Ada yang memanggil anaknya dari kejauhan.
Bahkan mungkin ada yang lupa, dirinya datang untuk duduk tenang.

“Tah! Éta budak urang! Ulah nepi ka katutupan ku jalma!”

Bahkan tidak sedikit masyarakat yang memberikan saweran kesetiap anak-anak yang tampil.

Tarian demi tarian berhasil membuat masyarakat semakin betah. Anak-anak tampil penuh percaya diri. Orang tua bangga, Penonton terhibur dan GOR semakin sesak.

Kades Arief: Ini Bukan Keberhasilan Satu Orang, Tapi Hasil Kekompakan Warga

Di tengah kemeriahan malam resepsi, Kepala Desa Panyingkiran ARIEF SYAEFUL BAHRI,S.H.,M.Kn., menyampaikan bahwa suksesnya seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 RI merupakan hasil dari kekompakan masyarakat terutama kalangan pemudanya yang mana kaum genZ desa Panyingkiran ini tidak menunggu perubahan datang melainkan mau menjadi  bagian dari kemajuan desanya.

Ia mengaku bersyukur karena seluruh kegiatan yang telah dimulai sejak 8 Agustus dapat berjalan dengan baik hingga mencapai malam puncak resepsi. 

Namun, bagi Arief, yang paling membanggakan bukan hanya ramainya acara. Melainkan semangat masyarakat yang mau terlibat dan bekerja bersama.

“Alhamdulillah, kita bisa sampai pada malam puncak dengan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Yang membuat saya bangga bukan hanya acaranya yang meriah, tetapi karena masyarakat Desa Panyingkiran bisa bersama-sama terlibat dan menjaga kekompakan dari awal sampai akhir,” ujarnya.

Arief juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan.

Menurutnya, setiap orang memiliki peran dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Ada yang menjadi panitia, Ada yang ikut lomba, Ada yang tampil di panggung, Ada yang membantu persiapan, Dan ada pula masyarakat yang datang memberikan dukungan.

“Acara ini bukan milik pemerintah desa saja. Ini adalah acara kita bersama. Karena itu saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh perangkat desa, panitia, RT, RW, Karang Taruna, lembaga desa, aparat keamanan, tokoh pemuda serta seluruh masyarakat yang telah ikut menyukseskan kegiatan ini,” tambahnya.

Kalau disederhanakan dengan bahasa Sunda:

“Lembur mah moal rame ku hiji jalma. Lamun saréréa daék gerak, kakara karasana!”

Juara Lomba Dapat Hadiah, Nu Taat Pajak Ogé Teu Kalah Hoki

Malam puncak tentu menjadi waktu yang paling ditunggu oleh para peserta lomba. Satu per satu pemenang dari berbagai perlombaan menerima hadiah sebagai bentuk penghargaan atas semangat dan partisipasi mereka.

Namun, ada kejutan lain. Bukan hanya para juara lomba yang mendapat hadiah. Masyarakat yang taat membayar pajak juga mendapatkan kesempatan membawa pulang hadiah melalui sistem undian.

Dan bagian ini cukup menarik. Dalam waktu kurang dari satu bulan, tingkat realisasi pembayaran pajak Desa Panyingkiran telah mencapai lebih dari 81 persen.

Capaian tersebut mendapat apresiasi besar dari Ibu Camat Panyingkiran NITA DWI WAHYUNI.

Kesadaran masyarakat dalam memenuhi kewajiban pajak dinilai menjadi salah satu indikator baiknya sinergi antara pemerintah desa dan warga. 

Jadi di Panyingkiran, semangat Agustusan bukan hanya: “Hayu urang meunang lomba!”_
Tapi juga: “Hayu urang bereskeun kawajiban, pajak gé ulah nepi ka katinggaleun!”

Dari Voli Sampai Futsal Yang Kalah Tidak Sedih

Rangkaian lomba yang digelar sejak awal Agustus memang menjadi salah satu pemantik kebersamaan warga.

Ada pertandingan bola voli yang membuat pendukung masing-masing tim ikut tegang.

Ada futsal yang membuat lapangan ramai oleh pemain dan supporter.

Ada jalan santai yang membuat warga bergerak bersama.Serta berbagai perlombaan anak-anak tingkat TK dan SD bahkan ibu-ibu
Menang tentu menyenangkan. 
Kalah? Ya, paling awalnya sedikit manyun, Tapi setelah itu kembali ketawa bareng. Karena inti dari semua kegiatan tersebut bukan semata-mata mencari siapa yang paling hebat. Tetapi menciptakan kebersamaan.

“Eleh meunang mah biasa, nu penting ulah eleh ku hoream!”

Malam Puncak Berakhir, Tapi Ceritanya Bakal Lama

Ketika malam semakin larut, acara perlahan memasuki penghujung.

Hadiah telah dibagikan, Tarian telah ditampilkan. Sambutan telah disampaikan.
Tapi suasana kebersamaan seolah masih terasa.

Malam puncak resepsi HUT ke-81 RI di Desa Panyingkiran akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara tahunan.

Ia menjadi bukti bahwa ketika sebuah desa mampu mengajak warganya bergerak bersama, acara sederhana pun bisa terasa luar biasa.

Tidak harus selalu mewah, Tidak harus selalu menghadirkan sesuatu yang besar. Kadang yang dibutuhkan hanya satu: warga yang mau hadir dan merasa memiliki. Dan malam itu, Desa Panyingkiran berhasil membuktikannya.
GOR penuh, Warga tumplek, Anak-anak bergembira, Pemuda bergerak, Aparat hadir, Pemerintah desa bekerja, Dan seluruh masyarakat menyatu dalam semangat kemerdekaan.

“Ieu lain soal saha nu pangraména, tapi kumaha urang bisa babarengan.”

Namun kalau melihat GOR yang penuh malam itu... Warga Panyingkiran mungkin boleh sedikit bangga dan berkata:

“Babarengan mah babarengan… tapi lamun soal rame, Panyingkiran mah tong ditanya deui, euy!”

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-81 
PANYINGKIRAN BISA! (Bijaksana, Inovatif, Santun, Amanah)

Pewarta : Enju Juarsa
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar