WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Suara Panggung AHY, Dimana Letak Kontroversinya?

JURNAL MEDIA Indonesia
- Saya barusan menonton pidato AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) yang terbaru sampai selesai. Pidato tersebut disampaikan di depan kader Partai Demokrat, memperingati 25 berdirinya Partai Demokrat. Pidatonya menarik dan tidak membosankan, artikulasinya sangat jelas, idenya runut_teratur, bagi saya sebagai rakyat kecil 'Pidatonya padat berisi, dengan narasi yang sangat kuat'. 

Bagi sebagian orang, penilaian itu berlebihan, tetapi begitulah secara subjektif saya menggambarkannya. Penilaian memang selalu punya sisi subjektivitas, tidak semua orang sama. Hal ini mungkin tidak perlu saya bahas lebih jauh, sebab dalam hal apapun sangat sulit menghindari penilaian yang berbeda; demikian juga dengan pidato Pak AHY. Tapi, patut saya sampaikan, dalam menilai pak AHY saya cukup berjarak; baik dengan pak AHY sendiri atau dengan Partai Demokrat. Saya bukan kader partai Demokrat, apalagi keluarga Pak AHY, tentu bukan donk. 

Paragraf kedua, antara penting dan tidak penting, tetapi perlu diutarakan sebagai alat ukur sederhana untuk menilai tulisan ini. Berikutnya saya anggap paling penting. Pertama; mengapa saya bilang dalam pidato tersebut pak AHY punya narasi yang kuat, padat, dan berisi? Jawaban saya sederhana; semua isu dimuat, dirangkai, dan disampaikan secara solid. Mulai dari isu ekonomi, sosial, pendidikan, ketahanan keluarga, hukum, kebijakan dan juga politik yang semuanya dalam upaya membela rakyat. 

Dan yang paling menarik (poin kedua) ketika beliau membicarakan nasib dan hajat perempuan. Mengapa ini saya anggap menarik? Alasannya karena perempuan adalah kelompok paling rentan dalam sejarah peradaban manusia, di Indonesia isu perempuan menjadi isu sentral yang memerlukan perhatian lebih. Alasan berikutnya, tidak banyak politisi yang punya narasi tentang perempuan; 'melindungi, memberi penguatan, fokus pemberdayaan, serta menjamin kemandirian kelompok perempuan dan juga ibu rumah tangga'. Tidak hanya politisi yang melupakan narasi tentang perempuan, bahkan juga dilupakan oleh sebagian tokoh-tokoh agama.

Ketiga, pak AHY memberikan penekanan tersendiri terhadap keadilan dan kesetaraan. Setiap orang harus punya kedudukan yang sama di mata hukum, demikian juga di ruang-ruang politik. Beliau bahkan memberikan penekanan, tidak boleh anggota partai Demokrat meminta perlindungan hukum dan keistimewaan tertentu hanya karena kita dekat dengan kekuasaan atau kita sendiri berkuasa. Semua orang, baik kawan ataupun lawan tidak ada urusannya, kita fokus membela kebenaran. Kurang lebih begitu narasinya. 

Keempat, pak AHY menyebutkan kekuasaan ada batasannya. Mungkin narasi ini yang paling heboh dan dianggap kontroversial. Menurut saya pernyataan ini menjadi kontroversial karena banyak politisi menanggapinya secara reaktif. Padahal dalam kacamata saya, setelah menontonnya sampai selesai. Tidak ada yang aneh, beliau hanya mengingatkan bahwa ketika mendapat kekuasaan seharusnya dimaksimalkan untuk bekerja untuk rakyat. Titik tekannya pada fungsi kekuasaan dan asas kebermanfaatannya. 

Pidato pak AHY seharusnya dijadikan sebagai bahan refleksi bagi para politisi. Bagi saya pesannya jelas, walaupun ruangnya terbatas tetapi dimensi pidatonya universal. Pidato tersebut memberikan catatan aksiologis terhadap kekuasaan. Kalimat 'kekuasaan seseorang terbatas' merupakan catatan ontologis. Sementara, lanjutannya ada kalimatnya menarik; 'kita jangan datang kepada rakyat ketika butuh, tapi hadirlah selalu ketika rakyat membutuhkan kita. Kompas moralnya jelas. Politik menurutnya bukan soal jabatan, kursi dan kekuasaan, tapi titik tekannya pada sebesar apa manfaatnya untuk rakyat? Terus dimana masalahnya? Jawabannya ada pada rumput yang bergoyang.

Syamsurijal Al-Gholwasy Al-Maliky 
(Intelektual Muda Ciputat dan Founder Rumah Peradaban.ID)
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar