WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Simpati dan Kecaman atas Nasib Maria Sharapova


New York, JMI — Kalangan tenis dunia memiliki perbedaan pandangan dan reaksi atas kasus doping yang menimpa bintang tenis cantik, Maria Sharapova.

Sharapova dinyatakan positif mengonsumsi obat terlarang jenis meldonium saat mengikuti turnamen Grand Slam Australia Terbuka, Januari lalu. Ia kemudian mengaku mengonsumsi meldonium sejak 10 tahun lalu. Mulai 1 Januari 2016, meldonium masuk daftar doping terlarang oleh Asosiasi Anti-doping Dunia (WADA).

Meldonium berfungsi untuk mempercepat sirkulasi darah dalam tubuh. Secara medis, meldonium berperan untuk meningkatkan kapasitas aliran darah bagi pasien yang menderita jantung kronis. Pada akhirnya, meldonium juga bisa dimanfaatkan untuk kesehatan para atlet.

Pengakuan Sharapova menimbulkan reaksi di kalangan komunitas tenis. Sebagian dapat menerima pengakuan Sharapova yang menyebut dirinya tidak mengetahui daftar obat terlarang terbaru yang dikeluarkan WADA untuk 2016 ini.

Namun, ada pihak yang menganggap pengakuan Sharapova hanyalah apologia untuk menutupi kecurangan yang dilakukannya pada Australia Terbuka lalu.

Mantan bintang tenis Jennifer Capriati termasuk yang sinis terhadap pengakuan Sharapova. Melalui akun Twitter-nya, peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini menyebutkan bahwa ia kecewa dengan pengakuan kesalahan yang dilakukan Sharapova.

"Saya sangat marah dan kecewa. Saya harus kehilangan karier karena cedera, tetapi menolak untuk melakukan kecurangan dalam bentuk apa pun. Saya memilih untuk menyerah dan menderita karena itu," tulis Capriati melalui akunnya, @JenCapriati.

"Saya tidak memiliki tim dokter yang lengkap dan mahal yang bisa membantu saya melakukan kecurangan dan mengakali sistem dan harus menunggu akhirnya terbongkar oleh ilmu pengetahuan," lanjutnya.

Jennifer Capriati merupakan salah satu petenis putri paling kontroversial dalam sejarah. Ia memulai debut sebagai petenis pro dalam usia 13 tahun 11 bulan pada 1990. Pada usia sangat muda itu, ia lolos ke final turnamen Grand Slam Perancis Terbuka dan menjadi petenis termuda yang masuk peringkat 10 besar dunia pada usia 14 tahun 235 hari.

Capriati mencapai puncak karier dengan meraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 pada usia 16 tahun. Namun, kariernya kemudian meredup setelah terlibat serangkaian tindak kriminal, seperti mengutil barang di toko serta pemilikan mariyuana.

Pada 1996, Capriati kembali ke dunia tenis dan berhasil meraih gelar juara Grand Slam di Australia Terbuka (2001, 2002) dan Perancis Terbuka (2001). Karier Capriati harus berakhir pada 2002 karena serangkain cedera yang terus menderanya.

Saat memberi sambutan ketika dirinya masuk dalam Tennis Hall of Fame (2012), Capriati mengaku sangat menyakitkan harus meninggalkan karier karena cedera. "Sulit sekali meninggalkan tenis," kata Capriati saat itu dengan penuh emosi. "Rasanya seperti kehilangan seorang yang kita cintai atau kehilangan sebuah hubungan atau bagian dari diri anda. Saya butuh waktu untuk menerimanya."

Hal serupa ditunjukkan pelatih tenis ternama, Brad Gilbert. Melalui akunnya @bgtennisnation, Gilbert menyebut seharusnya tim Sharapova-lah yang bertanggung jawab atas nasib yang menimpa petenis asal Rusia tersebut. "Masih heran bahwa tidak seorang pun dari tim Shazza memeriksa daftar (obat) dari WADA. Pemain memang harus bertanggung jawab, tetapi ini juga kembali kepada timnya."

Sementara itu, legenda tenis Martina Navratilova (@martina) meminta semua pihak menahan diri sampai ada penjelasan dari pihak ITF dan Maria Sharapova. "Tahan diri semuanya--tentang Maria--saya tidak mengetahui faktanya. Saya harap ini memang kesalahan yang jujur, apalagi barang ini setahu saya masih legal hingga 2015."
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar

Berita Terkini

Polres Bogor Melayani Langsung Masyarakat di Jum'at Curhat

Kab Bogor. JMI - Dalam acara rutin "Jum'at Curhat" di Polres Bogor, 23 Februari 2024 mulai pukul 08.30 sd selesai, warga ma...