WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

Krisis Obat dan APD: Usul Farmasis Menghadapi Wabah Covid-19

Opini Oleh : FARHAN HERI YASIN
Ilustrasi Apotek- Photoby AlexandrosChatzidimos from Pexels
Ribuan tenaga medis di seluruh Indonesia sedang berjuang bersama untuk menghadapi pandemi Coronavirus. Para pahlawan tanpa tanda jasa mengerahkan seluruh kemampuan untuk tetap mengabdi dan menjalankan tugasnya dengan masksimal, termasuk Farmasis. Kekurangan alat kesehatan (alkes) dan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan duka tenaga medis dalam fase penanganan Covid-19. Terlebih di masa krusial penyebaran Covid-19, membuat dilema tenaga medis.

“Kami banyak menghadapi masalah saat di masa krusial, terlebih obat-obatan dan APD penting kebanyakan sangat terbatas jumlahnya,” ujar FarmasisVolunteer dari Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, M. Rizky Firmansyah, Kamis (26/3/2020) melalui Aplikasi Whatsapp.

Hingga saat ini, obat-obatan dan APD penting belum mencukupi di Tangerang dan hanya ada di Jakarta. Kelangkaan alkes dan APD menghambat kinerja Farmasis sebagai tenaga kesehatan dalam sebuah rumah sakit, maupun Lembaga kesehatan.

“Di tempat kami menjadi volunteer, minimnya APD dan obat-obatan penting. Terlebih kelangkaan dan harga APD dan obat-obatan penting menjadi ketakutan sendiri bagi tenaga medis dan masyarakat,” ujarnya.

Kelangkaan barang dan banyaknya permintaan membuat tenaga medis, khususnya Farmasis dan Dokter membatasi jumlah pemberian obat akibat langkanya obat-obatan tersebut.

“Kami, terutama Farmasis dibantu Dokter kewalahan saat memberikan dosis yang tepat, disaat yang sama juga kami dihadapkan dengan kelangkaan obat-obatan terkait, seperti obat batuk, obat flu, obat pereda nyeri, anti-biotik, dan lain-lain,” ujarnya.

Duka tenaga medis sebagai garda terdepan untuk menghadapi pademi Covid-19 dengan minim dan langkanya APD membuat beberapa tenaga medis berjatuhan.

“Karena kami disini membantu secara kemanusiaan, kebanyakan dari kami banyak yang mengabaikan lapar maupun haus demi membantu pasien. Akhirnya banyak rekan kami yang tumbang kelelahan, hingga jatuh sakit. Terlebih, APD yang minim membuat kami menahan buang air kecil berjam-jam. Kalau APD dipaksa dibawa ke toilet, maka APD tidak higienis lagi alias terkontaminasi,” ujarnya.

Bagaimana Langkah Preventif Menghadapi Krisis Obat dan APD?

Banyak media memberitakan bahwa kelangkaan obat-obatan dan APD menjadi permasalahan yang dapat menghambat Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Layanan medis dan pemerintah berusaha memberikan kontribusi terbaik untuk menanggulangi wabah pandemi Covid-19 di Indonesia. Selain itu, selain stoknya terbatas, harga yang tidak masuk akal membuat hambatan besar bagi tenaga medis dan masyarakat menjangkau alat sanitasi dan APD.

“Minimnya kepekaan terhadap urgensi tenaga medis dalam menghadapi wabah Covid-19 membuat banyak oknum memanfaatkan keadaan untuk mencari keuntungan semata, seperti harga masker yang melambung tinggi, mulai harga Rp.30.000, sekarang sudah sampai harga Rp. 150.000-an. Sungguh perbuatan tercela,” ucapnya.

Rizky mengatakan bahwa pemerintah secepatnya harus mengusahakan dua hal, yaitu mengintervensi seluruh pihak yang memainkan harga pasar untuk bisa menurunkan harga yang melejit tersebut, serta diharapkan pemerintah sesegera mungkin untuk menyediakan kebutuhan para tenaga kesehatan dan masyarakat saat ini.

“Semoga kedepannya kami sebagai tenaga medis yang bertugas mendapatkan perhatian pemerintah sesegera mungkin, karena sudah banyak korban juga, termasuk tenaga medis yang terpapar Covid-19 ini. Dan saya, mewakili tenaga medis turut berduka cita karena sudah banyak tenaga medis yang terkena Covid-19 dan meninggal dunia. Perjuangannya tidak akan sia-sia bagi negara ini,” ujarnya.
JURNAL MEDIA INDONESIA PEDULI COVID-19
Apa Langkah Terbaik agar Tidak Terpapar Covid-19?

Rizky mengajak kita untuk membiasakan diri untuk memberikan dukungan kepada tenaga kesehatan, pemerintah, dan pihak-pihak yang sudah berusaha menanggulangi wadah pandemi Covid-19. Terpenting memahami secara jelas tentang Covid-19 itu sendiri, dan jangan panik.

“Kita pertama kali harus paham, apa itu Covid-19 atau biasa disebut Coronavirus ? Bagaimana ia menular dan dengan cara apa mereka bisa menjangkiti seseroang ? Lalu berapa lama ia menjangkiti seseorang ? Dan bagaimana antisipasinya. Kita harus selalu siap kapanpun, dan dalam keadaan apapun untuk mempertahankan diri agar tidak terpapar Covid-19.”

Menurut Alodokter.com, Covid-19 sendiri merupakan virus corona jenis baru yang termasuk kedalam penyakit golongan virus yang sama dengan virus penyebab severe acuterespi ratory syndrome (SARS) dan Middle-East Respiratory Syndrome (MERS). 

Sejumlah kecil kasus penyakit ini menyebabkan kematian. Orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis yang dimiliki sebelumnya (seperti diabetes dan penyakit jantung) terindikasi lebih rentan menderita penyakit yang parah karena virus ini.

“Gejalanya yang sudah saya pelajari di Kelas, seseorang yang terpapar akan mengalami gejala yang persis mirip dengan flu, seperti demam, batuk, dan pilek. Namun, menjelang beberapa hari setelahnya, bagi orang yang memiliki imunitas yang lemah, maka orang tersebut bisa mengalami sesak napas akibat infeksi paru-paru atau disebut pneumonia,” ujarnya.

Berdasarkan informasi dari WHO, masa inkubasi (masa menjangkiti sebelum virus aktif) coronavirus mulai dari 2-14 hari sejak terpapar pertama kali. Beberapa orang yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apa pun dan tetap merasa sehat. Sebagian besar (sekitar 80%) orang yang terinfeksi berhasil pulih tanpa perlu perawatan khusus. Sekitar 1 dari 6 orang yang terjangkit Covid-19 menderita sakit parah dan kesulitan bernapas. Orang-orang lanjut usia (lansia) dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti tekanan darah tinggi, gangguan jantung atau diabetes, punya kemungkinan lebih besar mengalami sakit lebih serius. 

Kabar baiknya, Vaksin telah ditemukan oleh peneliti dari Tiongkok. Namun kemungkinan besar untuk produksi massal memakan waktu sekitar 6-12 bulan kedepan. Oleh karena itu, negara Indonesia harus terus berjuang melawan pandemi Covid-19 dan melakukan tindakan pencegahan yang nyata demi mengurangi bentuk penularan baik langsung maupun tidak langsung.

“Kita harus selalu paham bagaimana menjaga diri kita agar kita tidak terpapar dan terjangkiti oleh Covid-19 ini, menurut saya pribadi, seperti mencuci tangan dengan benar merupakan langkah efektif memutus rantai penyebaran Covid-19. Apabila kesulitan untuk mencuci tangan, gunakan handsanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%. Lalu, penggunaan masker, baik masker bedah maupun masker N-95, walaupun tidak efektif sepenuhnya, namun penggunaan masker dapat mengurangi paparan Covid-19. Perlu di ingat, jangan remehkan penyakit apapun,” ujarnya.

Rizky juga menghimbau untuk selalu menjaga diri untuk tidak melakukan aktivitas di tempat yang berisiko Covid-19 seperti keramaian, tempat umum, dan fasilitas umum. Perkaya gizi untuk memperkuat sistem imun dan terhindar dari Covid-19. Perhatikan dan kerjasamanya dibutuhkan pemerintah untuk menanggulangi wabah Covid-19 bersama agar tidak semakin meluas dan dapat menolong lebih banyak orang yang membutuhkan.

“Dengan tidak berpergian, kami sebagai tenaga medis sudah sangat berterimakasih karena Anda telah berperan untuk memutus mata rantai persebaran virus ini secara luas dan massive. Maka dari itu, hashtag #DiRumahAja yang dianjurkan melalui program pemerintah dalam menanggulangi Covid-19 tanpa partisipasi dari kita semua warga negara Indonesia, maka kita akan kalah melawan Covid-19. Indonesia bisa, saya percaya itu,” ujarnya sebagai penutup.

Opini Oleh: FARHAN HERI YASIN 
( Mahasiswa Kriminologi Universitas Budi Luhur )
Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar

Berita Terkini

Sosialisasi Program Ketenagakerjaan, Bersama Kemnaker RI dan Anggota Komisi IX DPR RI

Tangerang, JMI - Ponpes Salafiyah Terpadu Al Hikmah El-Ali Cinding, menggelar acara seminar tentang Sosialisasi Program Ketenag...