WWW.JURNAL MEDIA INDONESIA.COM

“Peran Kita, Masa Depan Mereka” Mari Bersama Cegah Stunting di Grobogan

GROBOGAN, JMI - Untuk mempercepat penurunan stunting di Kecamatan Brati Kabupaten Grobogan Jawa Tengah, Puskesmas Brati bekerja sama dengan RSUD Dr. Soetomo - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai upaya untuk mencegah stunting di Grobogan. Kegiatan ini dihadiri kurang lebih 250 peserta yang terdiri dari ibu dan balita, yang merupakan perwakilan dari masing-masing desa sekecamatan Brati yang dilaksanakan di Geopark Karangsari pada hari Minggu, 21/04/2024.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama RSUD Dr. Soetomo dan Puskesmas Brati tersebut diharapkan bisa membantu pemerintah dalam mengurangi angka stunting di Indonesia, yang mana merupakan prioritas nasional ke-3 dalam poin Sustainable Development Goals (SDG).

Menurut data dari WHO, suatu negara dikatakan memiliki masalah stunting bilamana kasusnya mencapai angka diatas 30℅.sementara di Indonesia berdasarkan survei Status Gizi Indonesia(SSGI) dari data Kemenkes dimana prevalensi stunting di Indonesia turun dari 24,4% di tahun 2021 menjadi 21.6% di tahun 2022, dan harapannya di tahun 2024 ini turun menjadi 14%.

Bertemakan ‘Peran Kita, Masa Depan Mereka’  Harapannya melalui kegiatan penyuluhan ini masyarakat memahami arti penting dalam mengelola hidup sehat baik itu pemberian asupan gizi maupun pola hidup dalam lingkungan. karena angka Stunting merupakan prioritas nasional ke-3 dalam poin Sustainable Development Goals (SDG).

Hadir dalam kegiatan, Tim dari Puskesmas Brati terdiri dari Kepala Puskesmas Brati Kisno, S.KM, MM, Kepala Desa Karangsari Suhartini, dr. Calcarina Nira, Ibu Sumiyati, Amd. Gz, serta beberapa Bidan Desa. Serta Tim Pengabdian Masyarakat RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Dr.dr.Nur Rochmah, Sp. A(K) Endokrin, Dr. dr. Yuni Hisbiyah, MMRS, Sp. A, dr. Rayi Kurnia,Sp.A, Dr. dr. Muhammad Fauzi,Sp.A(K), Dr. dr. Neurinda Permata Kusumastuti,Sp.A(K), dr. Dinar, dr.Nabila, Diva S.KM, dan Rizka S.KM.

Kepala Puskesmas Brati Kisno, SKM, MM menyampaikan bahwa dari tahun 2022 permasalahan Stunting menjadi salah satu hal yang selalu menjadi perhatian di Pemerintah Kabupaten Grobogan, bahkan juga telah membentuk tim audit kasus Stunting di Kabupaten Grobogan yang terdiri dari tim pakar dan tim teknis, termasuk melibatkan dokter anak, dokter spesialis obgyn, psikolog serta persatuan ahli Gizi. Hingga tahun 2024 saat ini Stunting masih menjadi perhatian.


“Untuk tahun 2023 ada kurang lebih 200 yang terkena stunting, dan untuk saat ini sudah mengalami penurunan yang signifikan karena kami selalu memberikan bantuan makanan tambahan yang bernilai gizi tinggi tentunya.” Imbuh Kepala Puskesmas Brati, Kisno.

Stunting menyebabkan tidak maksimalnya pertumbuhan fisik sehingga anak menjadi pendek. Juga menyebabkan terhambatnya perkembangan otak sehingga memiliki kecerdasan dibawah rata-rata anak seusianya. Stunting juga dapat menurunkan kemampuan sistem ketebalan tubuh sehingga anak mudah sakit dan terkena infeksi.

Tapi tahukah Anda bahwa tidak semua anak yang pendek termasuk ke dalam stunting?

"Penyebab pendek pada anak di bagi menjadi dua, yakni pendek variasi normal dan pendek akibat penyakit."

“Anak yang memiliki orang tua dengan bertubuh pendek biasanya juga akan sama, hal tersebut di sebabkan karena faktor genetik dari orang tua. Kita juga dapat menjumpai kasus perawakan pendek akibat keterlambatan percepatan pertumbuhan (constitutional delay). Kedua tidak termasuk Stunting.” jelas Dr. dr. Yuni Hisbiyah, SpA dari Dokter Spesialis Anak RSUD Dr. Soetomo Surabaya. “Ada juga pendek akibat penyakit seperti gangguan hormon atau gangguan pertumbuhan tulang.” Ujar Yuni Hisbiyah.

Lantas Pendek seperti apa yang termasuk katagori Stunting?

“Kita perlu melihat berbagai faktor tubuh pendek. Bisa akibat faktor genetik atau keturunan, penyakit hormon atau gangguan pertumbuhan tulang, riwayat infeksi berulang, kurangnya stimulasi, dan kurangnya nutrisi dan gizi.

Stunting adalah perawakan pendek yang disebabkan kurangnya gizi kronis, kurangnya stimulasi, dan infeksi berulang. Jadi jika karena genetik saja atau karena ada gangguan hormon, tidak termasuk stunting.” Jelas dr.Rayi Kurnia P, Sp.A.

“Oleh karena itu untuk memaksimalkan pencegahan Stunting perlu adanya perbaikan gizi, stimulasi,dan penurunan infeksi dengan memperbaiki sanitasi dan air minum layak konsumsi.” Lanjutnya.

Bertemakan “Peran Kita, Masa Depan Mereka” Puskesmas Brati dan RSUD Dr. Soetomo bermaksud menyampaikan bahwa tidak hanya pemerintah dan tenaga kesehatan yang memiliki peran untuk mencegah stunting, tetapi juga keluarga, terutama Ibu, khususnya dalam mempersiapkan nutrisi terbaik untuk si kecil.


“Makanan kaya protein bersumber dari hewan seperti daging, ikan dan produk lainnya, susu dan produk susu seperti keju. Itu semua dapat membantu mencegah stunting.. tentunya sembari memperhatikan faktor pencegahan infeksi dan aspek stimulasi pula.” dr. Calcarina Nira menjelaskan.

Menurut dr. Calcarina Nira, Dokter Internsip Puskesmas Brati, “Stunting adalah masalah bangsa yang begitu pelik karena bersifat irreverible, artinya kondisi yang tidak dapat di perbaiki terutama setelah anak mencapai usia dua tahun. Karena itulah kunci utama cara mengatasi Stunting pada anak adalah dengan mengetahui pengetahuan tentang cara mencegah Stunting sedini mungkin yakni di 1000 hari pertama kehidupan, seperti yang kita laksanakan hari ini, atau bahkan sejak saat mempersiapkan kehamilan dan persalinan.”

 

Pewarta: Heru Gun

Share on Google Plus

0 komentar :

Posting Komentar

Berita Terkini

Operasi Jaran Lodaya Polres Majalengka Berhasil Kembalikan Kendaraan R2 Kepada Pemiliknya

MAJALENGKA, JMI - Hasil operasi Jaran Lodaya Polres Majalengka Polda Jabar tahun 2024 yang di laksanakan selama 10 Hari dari ta...